Jumat, 26 Juni 2026

ARTIKEL PENDIDIKAN

 

Pendidikan Agama, Kehidupan Sosial, dan Ekonomi: Membangun Masyarakat yang Berkarakter dan Sejahtera

Pendahuluan

Pendidikan merupakan salah satu faktor utama yang menentukan kualitas sumber daya manusia dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Di tengah perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan globalisasi, pendidikan tidak hanya berfungsi untuk meningkatkan kemampuan intelektual, tetapi juga membentuk karakter, moral, dan sikap sosial peserta didik. Salah satu aspek penting dalam pendidikan adalah pendidikan agama yang memiliki peran besar dalam membangun manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, serta mampu hidup berdampingan secara harmonis dengan sesama.

Dalam kehidupan masyarakat modern, pendidikan agama tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sosial dan ekonomi. Ketiga aspek tersebut saling berkaitan dan saling memengaruhi. Pendidikan agama memberikan pedoman moral dalam berinteraksi dengan orang lain dan mengelola harta secara bertanggung jawab. Kehidupan sosial yang harmonis akan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan ekonomi, sedangkan kondisi ekonomi yang baik mampu mendukung peningkatan kualitas pendidikan dan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, sinergi antara pendidikan agama, kehidupan sosial, dan ekonomi menjadi fondasi penting dalam mewujudkan masyarakat yang maju, adil, dan berkeadaban.

Peran Pendidikan Agama dalam Pembentukan Karakter

Pendidikan agama bertujuan membentuk manusia yang memiliki keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia. Dalam Islam, pendidikan tidak hanya mengajarkan tata cara beribadah, tetapi juga membimbing peserta didik agar mampu menerapkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai seperti kejujuran, amanah, tanggung jawab, disiplin, kerja keras, kepedulian sosial, serta sikap saling menghormati merupakan bagian penting dari ajaran agama yang harus diwujudkan dalam perilaku nyata.

Melalui pendidikan agama, peserta didik diajarkan bahwa setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt. Kesadaran tersebut mendorong seseorang untuk berperilaku jujur, menghindari perbuatan curang, serta menghormati hak orang lain. Pendidikan agama juga menanamkan semangat berbagi, tolong-menolong, dan kepedulian terhadap masyarakat yang membutuhkan sehingga tercipta kehidupan sosial yang harmonis.

Guru memiliki peran penting dalam menanamkan nilai-nilai tersebut melalui pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan materi, tetapi juga pada pembentukan karakter. Keteladanan guru menjadi faktor utama karena peserta didik cenderung meniru sikap dan perilaku yang mereka lihat setiap hari.

Pendidikan Agama dalam Kehidupan Sosial

Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Setiap individu membutuhkan interaksi dengan orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Oleh karena itu, kehidupan sosial yang harmonis menjadi salah satu syarat terciptanya masyarakat yang damai dan sejahtera.

Pendidikan agama mengajarkan pentingnya menjaga hubungan baik dengan sesama manusia (hablum minannas). Dalam Islam, hubungan antarmanusia harus dilandasi oleh sikap saling menghormati, saling membantu, menjaga persaudaraan, serta menghindari permusuhan dan diskriminasi. Nilai-nilai tersebut sangat relevan diterapkan dalam masyarakat Indonesia yang memiliki keberagaman agama, suku, budaya, dan bahasa.

Di lingkungan sekolah, pendidikan agama dapat menjadi sarana membangun kehidupan sosial melalui berbagai kegiatan seperti diskusi kelompok, kerja sama dalam proyek pembelajaran, kegiatan bakti sosial, maupun pembiasaan sikap santun kepada guru dan teman. Peserta didik belajar untuk menghargai pendapat orang lain, menyelesaikan konflik secara damai, serta bekerja sama mencapai tujuan bersama.

Selain itu, pendidikan agama juga menanamkan sikap empati terhadap masyarakat yang kurang mampu. Kegiatan seperti berbagi kepada fakir miskin, mengunjungi panti asuhan, atau menggalang bantuan bagi korban bencana merupakan bentuk implementasi nilai-nilai sosial yang diajarkan dalam agama.

Pendidikan Agama dan Kehidupan Ekonomi

Kehidupan ekonomi merupakan bagian penting dalam memenuhi kebutuhan manusia. Islam memandang kegiatan ekonomi sebagai bentuk ibadah apabila dilakukan dengan cara yang halal, jujur, dan bertanggung jawab. Oleh karena itu, pendidikan agama memiliki peran besar dalam membentuk perilaku ekonomi yang sesuai dengan nilai-nilai moral.

Dalam Islam, bekerja merupakan kewajiban untuk memperoleh rezeki yang halal. Setiap individu didorong untuk memiliki semangat bekerja keras, berusaha secara maksimal, serta menghindari praktik-praktik yang merugikan orang lain, seperti penipuan, korupsi, riba, manipulasi, dan kecurangan dalam perdagangan.

Pendidikan agama juga mengajarkan pentingnya mengelola keuangan secara bijaksana. Sikap hidup sederhana, tidak boros, gemar menabung, serta membelanjakan harta sesuai kebutuhan merupakan bagian dari pendidikan ekonomi yang berlandaskan nilai-nilai agama. Selain itu, Islam mengenalkan konsep zakat, infak, sedekah, dan wakaf sebagai bentuk pemerataan kesejahteraan sosial.

Apabila nilai-nilai tersebut diterapkan sejak usia dini, peserta didik akan tumbuh menjadi generasi yang memiliki etos kerja tinggi, bertanggung jawab, dan mampu mengelola sumber daya secara produktif tanpa mengabaikan aspek moral.

Hubungan antara Kehidupan Sosial dan Ekonomi

Kehidupan sosial dan ekonomi memiliki hubungan yang sangat erat. Masyarakat yang memiliki hubungan sosial yang baik cenderung mampu membangun kerja sama dalam berbagai bidang ekonomi. Kepercayaan, kejujuran, dan solidaritas menjadi modal sosial yang sangat berharga dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Sebaliknya, kondisi ekonomi yang baik juga akan mendukung kehidupan sosial yang lebih berkualitas. Keluarga yang memiliki kondisi ekonomi memadai dapat memenuhi kebutuhan pendidikan, kesehatan, dan gizi anak sehingga kualitas sumber daya manusia meningkat. Dengan demikian, pendidikan agama berperan sebagai penghubung yang menanamkan nilai-nilai moral agar aktivitas sosial dan ekonomi berjalan secara seimbang.

Dalam dunia kerja, nilai-nilai agama seperti integritas, disiplin, tanggung jawab, dan kerja sama menjadi modal penting untuk meningkatkan produktivitas. Perusahaan maupun lembaga yang menerapkan nilai-nilai tersebut umumnya mampu menciptakan lingkungan kerja yang sehat, meningkatkan kepercayaan masyarakat, dan memperoleh keberhasilan yang berkelanjutan.

Peran Sekolah dalam Mengintegrasikan Pendidikan Agama, Sosial, dan Ekonomi

Sekolah memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk peserta didik yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang baik. Oleh karena itu, pembelajaran hendaknya mengintegrasikan nilai-nilai agama dengan kehidupan sosial dan ekonomi melalui pendekatan yang kontekstual.

Guru dapat mengajak peserta didik menganalisis berbagai permasalahan sosial yang terjadi di lingkungan sekitar, seperti kemiskinan, pengangguran, perilaku konsumtif, atau kurangnya kepedulian terhadap sesama. Selanjutnya, peserta didik diajak mencari solusi berdasarkan nilai-nilai agama melalui diskusi, proyek kelompok, maupun kegiatan pelayanan masyarakat.

Model pembelajaran seperti Problem Based Learning (PBL) dan Project Based Learning (PjBL) sangat sesuai digunakan karena mampu melatih kemampuan berpikir kritis, kerja sama, komunikasi, dan penyelesaian masalah nyata. Dengan demikian, peserta didik tidak hanya memahami konsep secara teoritis, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Tantangan di Era Globalisasi

Perkembangan teknologi digital memberikan banyak manfaat dalam bidang pendidikan dan ekonomi, tetapi juga menghadirkan berbagai tantangan. Arus informasi yang sangat cepat dapat memengaruhi pola pikir dan perilaku generasi muda. Gaya hidup konsumtif, individualisme, penyebaran informasi yang tidak benar, serta praktik ekonomi yang tidak jujur menjadi tantangan yang perlu dihadapi melalui pendidikan karakter.

Pendidikan agama harus mampu memberikan bekal moral agar peserta didik memiliki kemampuan menyaring informasi, menggunakan teknologi secara bijaksana, serta tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian sosial. Dengan demikian, kemajuan teknologi dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas kehidupan tanpa mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan.

Penutup

Pendidikan agama, kehidupan sosial, dan ekonomi merupakan tiga aspek yang saling melengkapi dalam membangun masyarakat yang berkualitas. Pendidikan agama membentuk karakter dan moral, kehidupan sosial mengembangkan sikap saling menghargai dan bekerja sama, sedangkan kehidupan ekonomi menjadi sarana untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

Melalui pendidikan yang mengintegrasikan ketiga aspek tersebut, peserta didik akan tumbuh menjadi generasi yang beriman, berakhlak mulia, peduli terhadap sesama, memiliki etos kerja yang tinggi, serta mampu mengelola sumber daya secara bertanggung jawab. Peran guru, keluarga, sekolah, dan masyarakat menjadi sangat penting dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang mampu menanamkan nilai-nilai tersebut sejak usia dini.

Pada akhirnya, keberhasilan pembangunan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kemajuan ekonomi atau kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh kualitas karakter masyarakatnya. Pendidikan agama yang berpadu dengan kehidupan sosial dan ekonomi akan melahirkan generasi yang cerdas, berintegritas, produktif, serta mampu mewujudkan Indonesia yang adil, makmur, dan harmonis di tengah dinamika perubahan zaman.

@Hasna al-Uswah

ARTIKEL PENDIDIKAN

 

Pendidikan Agama, Budaya, dan Toleransi: Pilar Mewujudkan Generasi Berkarakter di Era Keberagaman

Pendahuluan

Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki keberagaman yang sangat kaya. Keberagaman tersebut meliputi agama, suku, budaya, bahasa, adat istiadat, dan tradisi yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Keanekaragaman ini merupakan anugerah Tuhan Yang Maha Esa yang harus dijaga dan dilestarikan sebagai kekuatan bangsa. Namun, apabila tidak dikelola dengan baik, keberagaman juga berpotensi menimbulkan konflik sosial akibat perbedaan pandangan, sikap, maupun kepentingan. Oleh karena itu, pendidikan memiliki peran strategis dalam membentuk karakter peserta didik agar mampu hidup berdampingan secara damai dalam masyarakat yang majemuk.

Pendidikan agama, budaya, dan toleransi merupakan tiga unsur yang saling berkaitan dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis. Pendidikan agama memberikan landasan moral dan spiritual, budaya menjadi identitas bangsa yang harus dilestarikan, sedangkan toleransi menjadi sikap yang memungkinkan setiap individu menghargai perbedaan. Ketiga aspek tersebut perlu ditanamkan sejak dini melalui pendidikan formal maupun nonformal agar peserta didik tumbuh menjadi pribadi yang beriman, berakhlak mulia, cinta tanah air, serta mampu menghormati keberagaman.

Pendidikan Agama sebagai Fondasi Karakter

Pendidikan agama memiliki tujuan utama membentuk manusia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia. Dalam konteks Pendidikan Agama Islam, peserta didik tidak hanya diajarkan mengenai ibadah dan pengetahuan keagamaan, tetapi juga dibimbing untuk menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari, seperti kejujuran, tanggung jawab, kasih sayang, keadilan, dan sikap saling menghormati.

Al-Qur'an mengajarkan bahwa manusia diciptakan dalam berbagai suku dan bangsa agar saling mengenal, bukan saling membenci. Firman Allah Swt. dalam Surah Al-Hujurat ayat 13 menyatakan bahwa kemuliaan seseorang di sisi Allah ditentukan oleh ketakwaannya, bukan oleh suku, ras, atau golongannya. Ayat tersebut menjadi dasar bahwa Islam menghargai keberagaman sebagai bagian dari kehendak Allah.

Pendidikan agama yang berkualitas tidak hanya berorientasi pada penguasaan materi, tetapi juga pada pembentukan karakter peserta didik. Guru memiliki peran penting sebagai teladan dalam menanamkan nilai-nilai toleransi, kasih sayang, dan penghormatan terhadap sesama. Melalui pembelajaran yang kontekstual dan menyenangkan, peserta didik dapat memahami bahwa menjalankan ajaran agama harus diwujudkan dalam perilaku yang mencerminkan kedamaian dan persaudaraan.

Budaya sebagai Identitas Bangsa

Budaya merupakan hasil cipta, rasa, dan karsa manusia yang diwariskan secara turun-temurun. Indonesia memiliki ribuan budaya lokal yang menjadi kekayaan nasional. Setiap daerah memiliki bahasa, pakaian adat, rumah adat, tarian tradisional, makanan khas, serta nilai-nilai luhur yang membentuk karakter masyarakatnya.

Di tengah perkembangan globalisasi, budaya lokal menghadapi berbagai tantangan. Masuknya budaya asing yang tidak selalu sesuai dengan nilai-nilai bangsa dapat menyebabkan lunturnya kecintaan generasi muda terhadap budaya sendiri. Oleh karena itu, pendidikan harus menjadi sarana untuk mengenalkan, melestarikan, dan mengembangkan budaya bangsa.

Sekolah memiliki peran penting dalam memperkenalkan budaya kepada peserta didik melalui kegiatan pembelajaran maupun kegiatan ekstrakurikuler. Misalnya, peserta didik dapat diajak mengenal lagu daerah, permainan tradisional, tarian daerah, batik, cerita rakyat, dan berbagai tradisi yang berkembang di lingkungan masyarakat. Dengan demikian, mereka akan memiliki rasa bangga terhadap identitas bangsanya sekaligus menghargai budaya daerah lain.

Budaya juga mengandung nilai-nilai luhur seperti gotong royong, musyawarah, saling menghormati, dan kepedulian terhadap sesama. Nilai-nilai tersebut sejalan dengan ajaran agama sehingga dapat menjadi dasar dalam membangun karakter peserta didik yang berakhlak mulia.

Toleransi dalam Kehidupan Bermasyarakat

Toleransi merupakan sikap menghargai dan menghormati perbedaan tanpa menghilangkan keyakinan yang dimiliki. Dalam masyarakat Indonesia yang multikultural, toleransi menjadi kunci utama terciptanya kehidupan yang damai dan harmonis. Toleransi tidak berarti mencampuradukkan ajaran agama, tetapi memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk menjalankan keyakinannya sesuai dengan aturan yang berlaku.

Di lingkungan sekolah, sikap toleransi dapat ditanamkan melalui berbagai kegiatan, seperti bekerja sama dalam kelompok yang beragam, menghargai pendapat teman, tidak melakukan perundungan, serta membantu siapa pun tanpa membedakan latar belakangnya. Guru perlu menciptakan suasana pembelajaran yang inklusif sehingga setiap peserta didik merasa dihargai dan diterima.

Dalam Islam, toleransi merupakan bagian dari akhlak mulia. Rasulullah saw. memberikan teladan dalam menghormati orang lain, menjaga hubungan baik dengan masyarakat yang berbeda keyakinan, dan mengedepankan perdamaian. Sikap tersebut menunjukkan bahwa agama mengajarkan kasih sayang kepada seluruh umat manusia.

Penanaman nilai toleransi sejak usia sekolah dasar sangat penting karena masa tersebut merupakan periode pembentukan karakter. Anak-anak yang terbiasa hidup dalam lingkungan yang menghargai keberagaman akan tumbuh menjadi pribadi yang terbuka, empati, serta mampu menyelesaikan perbedaan melalui dialog dan musyawarah.

Peran Guru dalam Menanamkan Nilai Agama, Budaya, dan Toleransi

Guru merupakan ujung tombak pendidikan karakter di sekolah. Keberhasilan pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh penguasaan materi, tetapi juga oleh kemampuan guru dalam menjadi teladan bagi peserta didik. Guru hendaknya menunjukkan sikap jujur, disiplin, santun, adil, dan menghargai setiap peserta didik tanpa membedakan latar belakang mereka.

Pembelajaran yang menggunakan model aktif seperti Problem Based Learning, Project Based Learning, maupun pembelajaran kooperatif dapat menjadi sarana efektif dalam menanamkan nilai toleransi. Melalui kegiatan diskusi, kerja kelompok, dan penyelesaian masalah nyata, peserta didik belajar menghargai pendapat orang lain, bekerja sama, dan bertanggung jawab terhadap tugas bersama.

Selain itu, guru dapat memanfaatkan media pembelajaran berupa video, cerita inspiratif, permainan edukatif, maupun proyek budaya untuk memperkuat pemahaman peserta didik tentang pentingnya keberagaman. Kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat juga menjadi faktor penting dalam membentuk karakter peserta didik secara berkelanjutan.

Tantangan dan Harapan

Perkembangan teknologi informasi memberikan kemudahan dalam memperoleh pengetahuan, tetapi juga membawa tantangan berupa penyebaran informasi yang tidak benar, ujaran kebencian, dan sikap intoleran melalui media sosial. Oleh karena itu, pendidikan harus membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir kritis, literasi digital, dan karakter yang kuat agar mampu menyaring informasi secara bijaksana.

Pendidikan agama, budaya, dan toleransi harus terus diperkuat melalui kurikulum, kegiatan sekolah, dan keteladanan seluruh warga sekolah. Nilai-nilai tersebut perlu diintegrasikan dalam setiap mata pelajaran sehingga tidak hanya dipahami secara teoritis, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Penutup

Pendidikan agama, budaya, dan toleransi merupakan fondasi penting dalam membentuk generasi Indonesia yang beriman, berakhlak mulia, mencintai budaya bangsa, serta mampu hidup harmonis di tengah keberagaman. Pendidikan agama memberikan pedoman moral dan spiritual, budaya menjadi identitas sekaligus kekayaan bangsa, sedangkan toleransi menjadi perekat kehidupan masyarakat yang majemuk.

Melalui pembelajaran yang bermakna, keteladanan guru, dukungan keluarga, dan partisipasi masyarakat, nilai-nilai tersebut dapat tertanam kuat dalam diri peserta didik sejak usia dini. Dengan demikian, mereka akan tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter yang luhur, menghargai perbedaan, menjaga persatuan, serta mampu berkontribusi dalam mewujudkan Indonesia yang damai, maju, dan berkeadaban. Pendidikan yang mengintegrasikan agama, budaya, dan toleransi pada akhirnya menjadi investasi jangka panjang untuk menjaga persatuan bangsa dan menciptakan kehidupan yang harmonis di tengah keberagaman yang menjadi ciri khas Indonesia.

@Hasna al-Uswah

Rabu, 14 Maret 2018

SYAIR



PERGI HILANG DAN LUPAKAN

Jangan datang jika hanya untuk bertanya kabar

Insyaallah dan semoga aku baik-baik saja

Aku takut jika nantinya ada kesalahpahaman dihati yang lain

Terimakasih untuk semuanya

Ya, mungkin itu yang ingin aku sampaikan saat kau kembali datang

Datang dari kepergianmu tanpa pamit itu yang selalu terulang

Haruskah aku menyadarinya sendiri ?

Haruskah aku menyimpulkan semuanya sendiri ?

Haruskah aku menerkanya sendiri juga ?

Tidak bukan, aku harus mendengarkan penjelasanmu

Begitu sakit ketika itu semua aku sendiri yang melakukannya

Meski tidak berbeda saat aku mendengar penjelasanmu secara langsung

Namun setidaknya aku tau secara jelas kalau aku harus pergi, menghilang dan melupakan

Ya, aku cukup tau caranya berbalik arah dan berjalan mundur

Meski itu semua sulit, bahkan sangat sulit

Kali ini aku benar-benar lelah

Aku ingin berhenti

Aku ingin bangkit dari keterpurukan ini

Aku enggan terpuruk lagi

Setelah sekian lama, hampir lima tahun aku down karenanya

Dan aku hampir bangkit namun aku harus terpuruk lagi

Aku rasa  aku takan sanggup, ini terlalu berat

Dan aku takan kuat

Kurasa kau benar-benar hebat, datang, pergi tanpa pamit, datang lagi, pergi lagi

Dan pada akhirnya datang lagi hingga tinggal untuk beberapa lama namun akhirnya pergi juga

Untuk apa itu semua, meminta ku untuk mencoba, berusaha dan bertahan jika akhirnya ditinggalkan

Sebenarnya aku ingin tersenyum karena kebodohanku sendiri

Namun senyuman itu tak mampu bersaing dengan air mata yang mengalir deras dipipiku

Ya, aku lelah saat hal ini kembali terulang dan aku ingin pergi, menghilang dan melupakan

Atau bahkan aku yang sudah ditinggal pergi, dihilangkan dan dilupakan ?

Namun aku terlalu takut untuk menyadarinya ?

Kurasa seperti itu.

Namun syukurlah, kali ini aku menyadarinya

Semoga akan tetap sadar kedepannya

Semoga hati ini tetap tenang dan takkan hilang

Meski harus kembali melupakan

Wahai hati bersahabatlah, kita pasti kuat
BY HASNA AL-USWA

Kamis, 07 Desember 2017

SYAIR



Angan

Kali ini kau datang, seolah membawa harapan
Namun, terkadang kau hilang tanpa berkabar
Seolah semuanya hanya permainan
Seolah semuanya tak bertujuan
Aku bimbang,
Berlanjutkah, bertahankah atau melepaskankah...??
Entahlah, semua hanya pertanyaan sebuah hati
Tanpa terucap, tanpa tersampaikan
Hanya saja aku tetap bimbang
Kau diam, kau tak berkabar, kau tak menjelaskan
Bagaimana mungkin aku tahu
Semua terabaikan, kau datang beralasan rindu
Namun terkadang kau pergi tak beralasan
Dan aku masih tetap bimbang
Kaupun tetap terdiam, kau benar-benar diam
Seolah kau memaksaku untuk memulai
Padahal itu hal yang tak mungkin
Aku wanita dan kau lelaki
Bahkan aku bukan wanita yang kala ini beremansipasi dalam hal ini
Aku tetaplah wanita yang masih ingin berada dibelakang
Dibelakang dalam hal ini
Layaknya khadijah dan yang lain
Bahkan inginkan layaknya Fatimah Az-Zahra
Namun itu hanya sebuah angan
Angan-angan hati yang belum terisi
By hasna al-uswa

Jumat, 01 Desember 2017

PUISI



Kurasa lelah hari ini
Semua terasa membosankan, tidak hanya itu akupun bimbang
Ingin ku berkata pamit namun hati tak kuasa
Ingin ku berkata pamit namun mulut ini enggan bersuara
Ingin ku berkata pamit namun tangan ini enggan menuliskan
Ingin ku berkata pamit dan pergi menjauh namun kaki ini enggan melangkah
Entahlah aku bimbang, aku mulai merasa nyaman ketika itu
Aku sedikit mengerti apa arti rindu kala itu
Namunnnnnnn aku...
Entahlah disisi lain ingin kutepis semua rasa itu, rasa nyaman yang kian bersemayam
Rasa rindu yang semakin menggebu meskin tak berujung temu
Akuuuuuuuu
Aku ingin pergi namun kurasa aku tak sanggup atau mungkin aku yang tak berusaha
Atau mungkin aku yang enggan untuk pergi
Aku hanya tak ingin merasakan sakit untuk yang kesekian kali
Aku hanya ingin merasakannya satu kali saja kala itu
Namun tanpa sadar kau pun terlampau sering menyakitiku
Ketika kau berkata pamit namun kau datang lagi
Tarik ulur bagai layang-layang
Bukan hanya sekali namun berkali-kali kau berkata ingin pergi
Berkali-kali pula aku merasakan sakit yang kian dalam
Namun seketika kau datang, disisi lain kedatanganmu membuat ku bahagia
Namun disisi lain kedatanganmu menggoreskan luka
Luka yang hampir sembuh tergores lagi
Dan dengan bodohnya aku membuka pintu tiap kali kau datang
Entahlah terkadang rasa sabar dengan bodoh tiada berbeda kala itu
Seketika ingin ku berucap rindu namun aku malu
Bukan hanya sekedar malu namun terlebih takut
Aku takut rasa itu semakin bergejolak tanpa bisa dikendalikan
Aku tak ingin itu, aku hanya ingin semuanya seperti biasa
Jadi seketika kau berkata ingin pergi lagi akupun akan terbiasa
Kau pergi tanpa rasa dan aku ditinggalkan tanpa sakit
Ya hanya itu,
Semua seolah-olah tak berharga
Kau diam, pergi seketika tanpa kabar, lalu datang tanpa sadar
Kau hebat menyakiti tanpa tahu kalau kau menyakiti, selalu seperti itu
Kurasa lelah hari ini,
Seketika aku ingin pamit, seketika aku ingin pergi, seketika aku ingin menjauh dan hilang perlahan dari mu
Namun aku enggan untuk itu, aku belum siap untuk merasakan sakit lagi
Aku hanya ingin merasakan bahagia sejenak, bersahbat dengan rasa nyaman dan rindu meski tak berujung temu
Berkisah dengan indah hingga semua berlalu dengan semestinya
Seketika aku berfikir, mungkinkah itu hanya harapan yang tak akan memiliki wujud
Aku sedih, aku rindu namun aku juga kecewa kau selalu seperti itu
Pergi begitu saja, mengilang tanpa kabar lalu terdiam tanpa kata.
 BY Hasna al-Uswa